on the way to belitung
Pikiran pertama gua adalah: gimana caranya gua nyampek airport jam 5 pagi? Namun karena gua anak baik, Tuhan memberi kemudahan buat gua :p Dari jam 3 pagi BBM group mulai deh “pang ping pang ping pong” ~ (bukan bacaan yang sebenarnya, red.) alias berisik untuk ngebangunin jangan sampai kita telat semua. Gak sia-sia, meski rumah di daerah Bintaro, gua jadi orang kedua yang sampai di airport. Isn’t it really sumthin’? Haha. Si Ibu Ketua yang rumahnya paling dekat malah dateng belakangan. Singkat cerita kita semua berhasil numpang ‘metro mini’ cap pesawat sriwijaya. Hal yang paling gua ingat di pesawat tuh cuman: Gigo penakut banget dan Dedek berisik banget. Tak lupa udara yang kurang bersahabat membuat perjalanan selama di udara semakin berwarna *palm face*.
hari pertama
Kondisi: mata masih sepet karena bangun terlalu awal, mau tidur di pesawat gak memungkinkan, cuaca panas yang agak menyengat ngalah-ngalahin AC kendaraan Elf yang kami tumpangi. Namun bara semangat berkobar di dada! Uhuuuuy, ajibbbbb.
Nah begitu sampai di Belitung, sang kusir eh supir datang menghampiri dengan papan namanya. Yes, he is the man of the week, please welcome . . . bang Rizaaaaaaal. Setelah diskusi dikit dengan bang Rizal (yang ternyata berondong bok – info penting yang gua ketahui setelah berteman di FB sesampainya di Jakarta – dibahas) akhirnya kita memutuskan untuk makan mie Belitung sebelum menaruh koper di penginapan. Mie Belitung sendiri, menurut gua pribadi sih gak terlalu istimewa yah, tapi yah namanya supaya eksis, gua pesen juga dong ah. Hehehe. Jarak tempuh dari pusat kota ke penginapan 30 menit, gak lebih ga kurang, dan bisa ditempuh dengan gak lebih dari 3-4 belokan aja dari start awal. Kami menginap di Hotel Lor Inn, konon sih masih 1 group dengan Sheraton. I just love it. Especially the open air bathroom!

Hari pertama ekplorasi ini judulnya adalah 1. Keringet 2. Keringet 3. Keringet. Kenapa gitu? Ya karena 9 orang ini keringetan semua. Hahaha. Bayangin aja ngider-ngider pantai, motret sana motret sini, keujanan, pantai pertama agak bikin kecewa karena pantainya kotor (kotor ama sampah daun dan ranting sih), trus gak ketemu pantai putih landai kebiruaaaan. Huaaaaa mau nangis rasanya gua. Untung air matanya berubah jadi keringet karena keburu kepanasan. Nah pantai berikutnya adalah si lorong bebatuan itu, alias pantai laskar pelangi. Sumpe deh, batu-batunya keren mampuuus. Pertama kali liat ga sangka kalo lorong itu hidup, kirain cuman celah yang buntu aja. Ternyata lorong-lorong itu seling terhubung dan menjadi semacam labirin. Sayang warna air laut di pantai kala itu lagi berkiblat pada trend warna sungai dan pantai yang ada Jakarta. Butek semua.


Akhirnya di pantai kelayang kita menemukan kedamaian. Foto-foto terbang dan loncat pun dipastikan untuk diabadikan disini. Pantai yang landai, pasir putih, air kebiruan. Tiga element dasar untuk bisa disebut sebagai pantai yang indah sudah didapat. Di tempat ini lah kami pun disambut dan berkenalan dengan makhluk-makhluk mini yang tidak ada di Jakarta, Agas namanya. Dia suka sekali kepada kami. Isn’t it really sumthin’?
hari kedua
Sunrise said: capture me if you can!

Oke, diawali dengan si tante labil ini berencana gak mau ikut bangun pagi demi ngejar sunrise. Kayaknya enakan tidur deh daripada ke pantai subuh-subuh yang toh pemandangannya ya aer lagi aer lagi. Tapi begitu gua mendengar bahwa ini di Danau Kaolin, (tunggu, apaan tuh kaolin? Ya lo browsing sendiri deh) gua langsung ngibrit bangun pagi (terutama dengan alarm super kecepetan dari bapak Semper – terima kasih banyak loh – sarkasme – sebenernya kesel). Ga mau rugi lah yaw kalau ini bisa jadi pemandangan yang baru. Iya apa iya? Sampai disana ternyata emang beneran bagus, paling tidak air danaunya sangat cantik. Bayangin aja lo lagi di kawah putih, mirip mirip gitu sih. Hehehehe. Jauh-jauh ke Belitung cuman liat yang mirip kawah putih, pasti itu yang ada di pikiran kalian kan? Tapi gak apa-apa lah, toh gua belum pernah ke kawah putih inih. Tapi bagi para photographer sih kayaknya kurang puas karena ga berhasil menjepret sunrise yang ciamik. Kasian.
Pulang dari Danau Kaolin, kita istirahat dan sarapan dulu di hotel. Sisa hari ini dihabiskan untuk mengunjungi Belitung Timur. Objek-objeknya kurang menarik menurut gua. Satu-satunya yang asyik hanya suatu pantai yang gua lupa namanya. Dimulai dari fakta bahwa airnya ternyata bening, dan bukan coklat butek seperti yang diliat dari kejauhan. Dedek, Gigo dan gua ga tahan untuk nyemplungin kaki ke air laut yang tenang itu (yang dicemplungin kaki loh yah, bukan sisa-sisa pembuangan akhir tubuh manusia). Kita bertiga pun jalan makin menjauhi bibir pantai, dan tebak, ternyata masi tetep landai! Bahkan dari kejauhan terlihat ada orang mancing ikan di tengah laut, dia bediri aja gitu loh, dan airnya hanya sebatas pinggang orang dewasa. Awalnya gua pikir mereka berdua semacam orang-orangan sawah. Ha ha ha. Airnya tenaaang banget. Sampai akhirnya si Gigo resmi menjadi “putra Belitung”.

Selebihnya kita mengunjungi replica sekolah Laskar Pelangi. Gak ada yang istimewa sih menurut gua, kecuali bahwa disana sedang berlangsung proses pembuatan sinetron. Heeemmmm. Pulang dari sini kita langsung pulang ke hotel yang menempuh waktu 2 jam.
Kesan lain tentang hari ini adalah wisata kulinernya. Pokoknya seru deh. Bintang tamunya masih tetap Bapak Gigo yang ternyata napsu makannyaaaaaaa *tutup mata* *merujuk pada saat Gigo ngabisin makan di warung ayam bakar belum lagi di kopi susu Belitung*
hari ketiga
Highlight of the trip: Pulau Lengkuas. Itu tuh pulau yang sering masuk tipi dengan mercu suarnya. Tapi sayang tamu tak diundang datang! Si langit akan becucuran air mata!

Gua bawa baju renang 3 setel dan ternyata kita cuman ngelaut sekali ini saja. Oke oke ini salah gua karena gak nanya info lebih lanjut ke Ibu Ketua. Bagi gua kostum lebih penting daripada langit yang mendung hari ini. Huahahahaha bisa digampar orang-orang nih. Yah sebenarnya langit mendung juga punya dampak buruk ke gua sih, karena hasil foto yang ada gua-nya kan jadi ga maksimal kan. Hihihihihi.

Kita menumpang kapal nelayan yang, yaaaaaah. . . lumayan lah. Perjalanan pergi ombak laut sih gua rasa masih cukup bersahabat. Namun, Bapak Gigo tak hanya antipati pada perjalanan udara, perjalanan laut pun juga. Setelah berdiskusi kami memutuskan untuk langsung ke P. Lengkuas baru nanti akan meneruskan ke pulau-pulau kecil lainnya. Ini dikarenakan langit yang sudah begitu gelap dan dipastikan hujan besar akan segera datang. Sesampainya disana langit pun menangis. Sebagian meneduh di bangunan tua yang mengelilingi mercusuar, sebagian lagi termasuk gua memilih untuk cebur-ceburan di pantai. Pantai ini sendiri gak landai loh kawan-kawan, kurang asik deh buat main-main. Akhirnya Dewa, Gigo, Arip dan gua keliling-keliling sekitar pantai untuk cari spot background foto. Horeeeee, bang Rizal menyertai ‘kubu’ fotomodel ini. Bang Rizal lah yang dengan sigapnya ngambil foto2 kami berempat dengan latar belakang bebatuan yang keren banget. Pokoknya layak jadi profile picture di social media kita deh *itu aja yang dipikirin*. Dari kejauhan kita berempat bisa ngeliat ‘kubu’ potograper bermuka kurang ceria dan lemas karena sang bintang Utama gak nongol, sang matahari. Kasian.

Selepas dari poto-poto, akhirnya gua memutuskan naik juga ke mercu suar. Tanggung, pikir gua. Meski awalnya sempat gak mau naik juga sih, pasalnya gua denger bahwa sebenarnya wisatawan udah gak boleh lagi naik kesitu dikarenakan usianya yang udah 130 tahun. Dengan perlahan tapi pasti dan membawa ‘bekal’ yang cukup lumayan berat buat ukuran naik tangga (kantong anti air warna kuning yang dipenuhi dompet dan gadget kalian :D, red.) gua orang pertama dari group kita yang naik ke puncak. Lha kok malah gua duluan yang sampek yah, padahal tadi gua awalnya gua bilang ga mau naik dan nunggu dibawah aja. Ini bukti kelabilan gua lagi. Hihihihi.

Sunrise said: capture me if you can!

Oke, diawali dengan si tante labil ini berencana gak mau ikut bangun pagi demi ngejar sunrise. Kayaknya enakan tidur deh daripada ke pantai subuh-subuh yang toh pemandangannya ya aer lagi aer lagi. Tapi begitu gua mendengar bahwa ini di Danau Kaolin, (tunggu, apaan tuh kaolin? Ya lo browsing sendiri deh) gua langsung ngibrit bangun pagi (terutama dengan alarm super kecepetan dari bapak Semper – terima kasih banyak loh – sarkasme – sebenernya kesel). Ga mau rugi lah yaw kalau ini bisa jadi pemandangan yang baru. Iya apa iya? Sampai disana ternyata emang beneran bagus, paling tidak air danaunya sangat cantik. Bayangin aja lo lagi di kawah putih, mirip mirip gitu sih. Hehehehe. Jauh-jauh ke Belitung cuman liat yang mirip kawah putih, pasti itu yang ada di pikiran kalian kan? Tapi gak apa-apa lah, toh gua belum pernah ke kawah putih inih. Tapi bagi para photographer sih kayaknya kurang puas karena ga berhasil menjepret sunrise yang ciamik. Kasian.
Pulang dari Danau Kaolin, kita istirahat dan sarapan dulu di hotel. Sisa hari ini dihabiskan untuk mengunjungi Belitung Timur. Objek-objeknya kurang menarik menurut gua. Satu-satunya yang asyik hanya suatu pantai yang gua lupa namanya. Dimulai dari fakta bahwa airnya ternyata bening, dan bukan coklat butek seperti yang diliat dari kejauhan. Dedek, Gigo dan gua ga tahan untuk nyemplungin kaki ke air laut yang tenang itu (yang dicemplungin kaki loh yah, bukan sisa-sisa pembuangan akhir tubuh manusia). Kita bertiga pun jalan makin menjauhi bibir pantai, dan tebak, ternyata masi tetep landai! Bahkan dari kejauhan terlihat ada orang mancing ikan di tengah laut, dia bediri aja gitu loh, dan airnya hanya sebatas pinggang orang dewasa. Awalnya gua pikir mereka berdua semacam orang-orangan sawah. Ha ha ha. Airnya tenaaang banget. Sampai akhirnya si Gigo resmi menjadi “putra Belitung”.

Selebihnya kita mengunjungi replica sekolah Laskar Pelangi. Gak ada yang istimewa sih menurut gua, kecuali bahwa disana sedang berlangsung proses pembuatan sinetron. Heeemmmm. Pulang dari sini kita langsung pulang ke hotel yang menempuh waktu 2 jam.
Kesan lain tentang hari ini adalah wisata kulinernya. Pokoknya seru deh. Bintang tamunya masih tetap Bapak Gigo yang ternyata napsu makannyaaaaaaa *tutup mata* *merujuk pada saat Gigo ngabisin makan di warung ayam bakar belum lagi di kopi susu Belitung*
hari ketiga
Highlight of the trip: Pulau Lengkuas. Itu tuh pulau yang sering masuk tipi dengan mercu suarnya. Tapi sayang tamu tak diundang datang! Si langit akan becucuran air mata!

Gua bawa baju renang 3 setel dan ternyata kita cuman ngelaut sekali ini saja. Oke oke ini salah gua karena gak nanya info lebih lanjut ke Ibu Ketua. Bagi gua kostum lebih penting daripada langit yang mendung hari ini. Huahahahaha bisa digampar orang-orang nih. Yah sebenarnya langit mendung juga punya dampak buruk ke gua sih, karena hasil foto yang ada gua-nya kan jadi ga maksimal kan. Hihihihihi.

Kita menumpang kapal nelayan yang, yaaaaaah. . . lumayan lah. Perjalanan pergi ombak laut sih gua rasa masih cukup bersahabat. Namun, Bapak Gigo tak hanya antipati pada perjalanan udara, perjalanan laut pun juga. Setelah berdiskusi kami memutuskan untuk langsung ke P. Lengkuas baru nanti akan meneruskan ke pulau-pulau kecil lainnya. Ini dikarenakan langit yang sudah begitu gelap dan dipastikan hujan besar akan segera datang. Sesampainya disana langit pun menangis. Sebagian meneduh di bangunan tua yang mengelilingi mercusuar, sebagian lagi termasuk gua memilih untuk cebur-ceburan di pantai. Pantai ini sendiri gak landai loh kawan-kawan, kurang asik deh buat main-main. Akhirnya Dewa, Gigo, Arip dan gua keliling-keliling sekitar pantai untuk cari spot background foto. Horeeeee, bang Rizal menyertai ‘kubu’ fotomodel ini. Bang Rizal lah yang dengan sigapnya ngambil foto2 kami berempat dengan latar belakang bebatuan yang keren banget. Pokoknya layak jadi profile picture di social media kita deh *itu aja yang dipikirin*. Dari kejauhan kita berempat bisa ngeliat ‘kubu’ potograper bermuka kurang ceria dan lemas karena sang bintang Utama gak nongol, sang matahari. Kasian.

Selepas dari poto-poto, akhirnya gua memutuskan naik juga ke mercu suar. Tanggung, pikir gua. Meski awalnya sempat gak mau naik juga sih, pasalnya gua denger bahwa sebenarnya wisatawan udah gak boleh lagi naik kesitu dikarenakan usianya yang udah 130 tahun. Dengan perlahan tapi pasti dan membawa ‘bekal’ yang cukup lumayan berat buat ukuran naik tangga (kantong anti air warna kuning yang dipenuhi dompet dan gadget kalian :D, red.) gua orang pertama dari group kita yang naik ke puncak. Lha kok malah gua duluan yang sampek yah, padahal tadi gua awalnya gua bilang ga mau naik dan nunggu dibawah aja. Ini bukti kelabilan gua lagi. Hihihihi.

Singkat cerita, kita berhasil juga pergi ke pulau pasir dan snorkeling di dekat pulau burung. Dinamakan pulau burung karena dari angle tertentu memang kayak kepala burung. View under waternya sendiri pun biasa-biasa aja. Karang-karangnya sih bagus, tapi sayang sepertinya sudah mati (atau emang ga berwarna aja yah? Maap saya bukan ahli biologi laut). Sepulangnya dari situ, gua rikues mandi duluan – maklum sekamar bertiga, jadi kan kamar mandi kudu antri – kalo mandi bareng, ntar malah intip-intipan) karena gua bener-bener udah kedinginan dari awal dan ngeri bakalan sakit.
on the way home
Gak ada yang istimewa selain gua berhasil nemuin tempelan kulkas cap Belitung. Maklum gua kan koleksi. Sayang koleksi utama gua, yaitu kartu remi cap daerah yang dikunjungi, gak berhasil ditemukan. Sisanya ya makanan, makanan dan makanan. Jadi ceritanya, pagi itu barang-barang bawaan sudah dikemas, ditaruh di bagasi mobil, dan selesai membeli oleh-oleh rencananya kami akan langsung ke bandara. Kami sempat mampir ke beberapa toko souvenir dan makanan khas Belitung. Antara guide dan toko-toko tersebut sepertinya sih sudah menjalin suatu ‘kerja-sama’. Sesampainya di bandara, tak lupa gua sempatkan diri memotret bang Rizal (hahahaha dibahas).
Ngenesnya, selama kami duduk di ruang tunggu keberangkatan, langit pun menampilkan performa terbaiknya. Siang itu cerah, saudara-saudara! Matahari bagaikan menari-nari dimata kami. Sebagian dari kami merasa ingin menikmati Belitung untuk beberapa hari lagi, gua sendiri sih tidak. Udah cukup kok
Tidak ada komentar:
Posting Komentar