Pada hari keberangkatan 8 des 2011 telah disepakati pukul 0500 kami sudah harus berada di di bandara soeta untuk check in, maka saya memutuskan berangkat dr rumah jam 0300 pagi agar bisa sampai kira2 sekitar jam 0400, sehingga saya bisa santai2 dulu di bandara (karena saya memang paling males grabak grubuk kalo ngapa2in apa lagi kalo mau jalan2 gini bias brantakan moodnya.. hehe)
Karena kebetulan ternyata saya yang pertama datang ke bandara disbanding 8 rekan lain, maka saya memutuskan untuk jalan2 sedikit di bandara sambil cari spot merokok, setelah bakar rokok sebatang saya bergerak ke depan loket sriwijaya air di term 1b. yg kemudian bertemu cio di depan loket sriwijaya air. 15 menit kemudian eka datang, disusul berurutan masing-masing dedek, adi “semper”, arief “penyok”, dan terahir robongan akbar “gigo”, indra “dewa”, dan beserta ibu ketua geng aprilia “dewe”iana.
Pukul 0600wib Stelah cekin sambil menunggu masuk kabin pesawat, di ruang tunggu kami pun mulai disibukan dengan kegiatan masing2 ada yg ke mushola, ke toilet, sarapan, foto2, buka2 ipad baca berita atau utak atik bb sekedar update status socmed. Saya sendiri baca Koran pagi yg kebetulan disediakan oleh pihak bandara. Setelah ada pengumuman panggilan masuk pesawat maka kamipun bergegas masuk pesawat, dan saya berjalan paling depan sambil foto2 narsis.
Didalam pesawat saya duduk dengan semper dududk di sisi jendela, penyok ditengah dan saya disisi selasar. Jakarta – tanjung pandan menghabisakan kira2 45mnt- 1jam perjalanan kami masuk pesawat sekitar 0620wib dan keluar pesawat di tj pandan sekitar 0750wib. selama perjalanan sempat terjadi guncangan (tapi masi biasa dibandingkan guncangan hati ku akibat kamu #eaaa) yg bikin panic penumpang apa lagi ketika mendarat yg terlalu kasar, entah karena memang terdapat speed trap atau memang pilotnya ngerem terlalu dalam. Tapi ahirnya kami sampai di Belitung . alhamdulillah sesuatu banget…
Setelah turun dari pesawat hal yg terbersit dalam hati saya adalah.. “ya.. Belitung benar panas terik rupaya..” dan sambil jalan menuju ruang bandara sperti biasa kami tidak lupa berfoto-foto didepan tulisan bandara H.A.S. Hanandjoeddin. Dilanjutkan dengan menunggu mengambil barang-barang yang masuk bagasi. Tidak lama kemudian seseorang yang ditugaskan dari travel agent bernama ‘bang rizal’ sudah berjalan di depan kami menuntun kea rah mobil.
Hari Pertama
Setelah keluar dari bandara hal pertama yang ditawarkan oleh bang rizal adalah sarapan. Maka ia pun memabawa kami menuju pusat kota tanjung pandan karena menurut beliau ada sebuah kedai yg menjual mie khas Belitung yg cocok untuk sarapan yaitu mie Belitung “atep” (yg ternyata setelah saya brosing, kedai tsb cukup terkenal). Menu mie blitung ini entah kenapa menurut saya unik, rasanya tuh perpaduan antara rasa mie jawa yg disiram dengan kuah pempek, yg ternyata saya nagih..
Setelah sarapan bang rizal menunjuk tidak jauh dr kedai tersebut terdapat bundaran taman dengan monumen berupa tugu dengan sebuah replika batu meteor diatasnya. Yg konon katanya di Belitung pernah ada meteor yg jatuh dan bentuknya seperti itu, batu tersebut memiliki kandungan magnet yang dapat berinteraksi dengan medan magnet di dalam tubuh kita, kebetulan saya sendiri sempat mencoba berinteraksi dengan batu meteor tsb di gift shop ketika akan pulang, dengan batu meteor yg berukuran kecil, berbentuk silinder sebesar setengah kelingking saya kira2, dapat bergerak menjauh ketika kuku jempol tangan kanan saya, saya dekatkan ke batu tersebut. Subhanaallah..
Setelah sarapan dan cerita singkat soal latar belakang monument tersebut kami pun di bawa ke hotel kami yg ternyata jarak antara ibukota Belitung yaitu tanjung pandan jauhnya sekitar lebih dari 20 km, namu karena ternyata Belitung itu merupakan pulau kecil dan berpenduduk yg tidak padat maka jalan rayanya sangat sepi kalo bisa di bilang dan jarak tersebut kami tempuh hanya dalam 1 jam dengan kecepatan kira 60-100kmj. Di hotel pun kami tidak berlama2 karena Cuma berniat untuk taro barang serta ganti baju dan jalan menuju objek pertama yaitu tanjung tinggi.
Tanjung tinggi
Sampai di tanjung tinggi cuaca ternyata aga mendung tapi tidak menyurutkan keinginan kami untuk mencari objek2 menarik untuk di foto, namun kondisi pantai tidak sesuai dengan ekspektasi saya yang ternyata ombaknya kalem walaupun berangin, dan kondisi pantai yg agak tidak terawatt, dan sampah terlihat dimana2. Dengan kamera henpon saya pun coba foto2 layaknya bak seorang fotografer handal dengan kamera dslr di tangan. Kemudian tanpa sadar ternyata adi “simper” menenteng dua buah kamera dslr yg kemudian dengan seizinnya saya meminjam canon eos 50Dnya untuk foto2. Sejak saat ini sampai pulang saya menggunakan eos 50D untuk hunting foto, dan soner saya jadikan kamera sekundari saya.
Sekitar 30 mnt kami foto2 ternyata cuaca berubah menjadi gerimis dan hujan, maka kamipun memutuskan menghentikan sesi foto2 saat itu untuk berteduh, bukan karena kami takut air namun kamera kami yg takut air hihihi. Maka sambil menunggu hujan reda kamipun memutuskan untuk makan siang lebih awal yaitu sekitar pukul 11 siang di sebuah kedai seafood yg tidak begitu jauh dr spot hunting foto kami. Dan pada makan siang ini lah saya bertemu dengan menu “Gangan” menu berupa gulai ikan yg empat saya temukan sewaktu brosing sebelumnya, rasa dr menu ini cukup ramai dengan rempah2 namun sebenarnya rasanya tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Justru malah menu sarapan kami yaitu mie Belitung yg masi menarik saya untuk menyantap menu tersebut lagi.
Selesai makan siang setelah isoma, dan matahari kembali menampakan sinarnya yg hangat, kami pun kembali ke spot hunting kami di tanjung tinggi namun bukan sisi pantai yg kami datangi pertam kali, namu sisi pantai yg di jadikan spot untuk syuting laskar pelangi dan syuting video klip laskar pelangi oleh grup band nidji.
Sisi pantai ini menurut saya sangat menarik karena terdapat hamparan batu2 berukuran sangat besar yg apabila saya tanyakan ke bang rizal dr mana batu2 ini berasal, ia pun menjawab tidak tahu bahkan ahli yg mencoba meneliti jg tidak tahu bahkan legenda atau mitos juga tidak menyebutkan bagaimana batu2 tersebut bisa tersebar, tersusun di pulau Belitung. Unik menurut saya karena batu2 tersebut buka jenis batu karang yang kasar, atau mempunyai bentuk satu kesatuan padat, namun batu2 teresebut berbentuk silinder pipih berfariatif dan tersusun acak, ada yg tertanam dan ada yng tersusun bertumpuk, sehingga yg tersusun tertumpuk papa bila tidak hati2 batu tersebut bisa bergoyang. Sedangkan batu2 ukuran sedang yang tertanam di pantai rata2 licin karena selalu basah oleh air laut dan berlumut, adi sempat tergelincir ketika akan naik ke salah satu batu ketika akan mengambil objek foto dari atas batu tersebut.
Setelah cukup puas, walaupun sebenarnya belum, bang rizal mengajak kami pindah ke sisi lain pantai, yg terdapat hamparan pasir putih halus seperti terigu dgn garis pantai luas. disini kami mulai membuat foto2 seperti melompat, berfoto dengan bintang laut, mengabil foto dengan obyek kapal2 nelayan, bangkai kapal nelayan, memfoto pulau2 yg terlihat di kejauhan seperti pulau garuda, karena puncaknya nampak seperti kepala burung. Lalu kami berjalan menyusuri pantai sekitar 2-3km menuju ke sebuah kumpulan susunan batu2 besar sama seperti formasi batuan di sisi pantai sebelumnya.
Di sisi pantai ini kami cukup dibuat repot oleh seragan serangga sejenis nyamuk bernama agas, membuat kami harus menyemprotkan losion anti nyamuk ke kaki tangan dan leher, dan ternyata efek gatalnya masi belanjut samapi kami pulang seminggu kemudian, ini dirasakan oleh saya, eka dan cio
Selesai dengan sesi di pantai ini kami di ajak oleh bang rizal untuk lihat sunset di (lupa namanya, sebut saja pelabuhan nelayan) lokasi ini sebenarnya merupakan dermaga kecil bagi masyarakat sekitar yg bermata pencarian sebagai nelayan. Namun apa boleh dikata, ternyata awan menutupi matahari petang itu, sehingga kami pulang denmgan hanya mendapatkan hasil dr para nelayan yg sedang membereskan kapal2nya dan objek2 human interest lainnya
Sekitar pukul setengah 7 kami sampai hotel untuk bebersih mandi dan siap2 untuk makan malam pada pukul 8 malam. Hari pertama makan malam kami disuguhi makanan laut, yaitu kepiting, udang, cumi2 dan sayur kangkung.. hufft cukup lahap kami rebutan makanan malam itu. Selesai makan saya membagikan kaos Belitung yg saya dan dewa koordinir untuk di pakai di hari sabtu, yg rencananya aka keliling pulau dengan kapal nelayan
Setelah selesai makan malam kami minta di antar mencari cemilan dan took kelontong. Maka di dapatkan martabak manis dan martabak telor Bangka, untuk camilan malam hari di hotel..
Hari pertama ditutup sekitar pukul 11 malam ketika semua kawan2 mulai masuk kamar masing2 untuk istirahat.
Hari Kedua
Pagi hari saya dibangunkan adi pada pukul 3 pagi untuk siap2 berangkat pada pukul 4 menuju objek huting sunrise di danau kaolin. Jujur saja badan masi terasa lelah namun saya sangan semangat di hari kedua ini.
Danau kaolin
Danau kaolin memiliki catatan terndiri bagi saya, dimana sebenarnya danu ini adalah danau yg terbentuk akibat campur tangan manusia. kenapa begitu..? karena danau ini terbentuk akibat eksplorasi batuan yg dijadikan bahan tambang, ketika tambang tersebut di setop produksinya makan kubangan batu tersebut secara tidak langsung membentu danau akibat ter isi air dr curah hujan yg terjadi. Namun hal ini mengakibatkan kubangan tersebut menjadi daya tarik tersendiri apa lagi bagi kami yg menyukai fotografi. Bentuk2 dinding batunya menyerupai grand canyon berwarna putih dengan refleksi yg tibul di permukaan danau. Ya, lokasi ini menjadi terlihat indah alami, padahal sebenarnya alam yg rusak kalo menurut saya, tp saya cukup menikmati suasana di tempat ini pada saat itu.
Danau kaolin sendiri dari hotel berjarak sekitar 30-45mnt perjalanan, saya sendiri kurang begitu memperhatikan jalan karena saya masi aga mengantuk dan keasikan mendengarkan music dr mp3 player saya. Sampai dilokasi keadaan gelap gulita karena memang tidak ada penerangan sama sekali, beruntung langit cerah, dan matahari belum terbit. Teman2 pun mulai mencari spot2 yg asik untuk mendapakan hasil sempurna mereka. Sayapun hanya mondar mandir, sambil sesekali mencoba menjepret matahari yg mulai nongol. aga sulit memfoto dengan keadaan minim cahaya sehingga saya harus menseting bukaan aga lama dan menstabilkan tangan agar tidak banyak gerak, namun hasilnya tetap saja goyang, dan saya pun harus puas dengan hasil yg saya dapatkan. Ahirny saya pun iseng ikutan melempar batu2 kecil seperti yg dilakukan oleh bang rizal untuk menciptakan riakan air sebagai efek untuk foto2 anak..
Selesai hunting sunrisedan foto2 narsis, kami kembali ke hotel pukul sekitar 6, untuk mandi, sarapan dan bersiap menuju Belitung timur. Ya.. manggar tujuan utama kami hari ini, sebuah daerah yg menjadi lokasi utama dala film laskar pelangi
vihara dewi kwam im menjadi transit kami siang itu, sebuah vihara yg cantik yg terletak di dataran tinggi pulau Belitung. Dengan susunan massa bangunan yg tersusun akibat penggabungan dr pendopo2 yg memiliki fungsi2 tersendiri. Tidak banyak yg bias saya ceritakan disini karena saat itu waktu sudah mepet dengan waktu sholat jumat, maka saya hanya mengambil foto dengan obyek2 di sisi kiri bangunan tersebut. Dimana terdapat tangga yang langsung menuntun menuju ke ruang doa dan persembahan (cmiiw)
Seusai mengeksplorasi vihara dewi kwam im, tidak jauh dari vihara tersebut kita break sejenak untuk sholat jumat. Pada saat itu saya bingung kenapa penduduk setempat harus selalu menutup pintu pagar setiap kali memasuki masjid. Pikiran saya mungkin dikarenakan disana banyak anjing liar, sehingga pintu harus selalu tertutup untuk mencegah anjing masuk ke dalam masjid.
Selesai jumatan kami makan siang di kedai (lupa), disini kami kembali disuguhi seafood, dan satu hal yg membuat kami mengingat lokasi ini adalah kami disuguhi minuman seperti teh namun ternyata itu adalah sari asem. Yg saya bingung pada awalnya adalah kok the ada biji asemnya di dalemnya mengambang, dan ternyata teman2 bilang kal9o ituadalah sari asem dan sontak semau tidak ada yng meminum minuman tersebut.. (jaaahat kalian.. LOL).
Selesai makan siang kami ngopi2 di kota manggar, saya memesan kopi susu, dengan kopi khas manggar yg rasanya nikmat, enah rasanya begitu beda, gurih namun manis akibat dari susunya. Selesai dr kedai kopi kami melanjutkan dengan mengunjungi spot2 yg ada di film lascar pelangi seperti took kelontong dimana sitokoh utama film tersebut mengambil kapur pesanan guru mereka.
Satu catatan lagi tentang kota ini, di setiap jalan di kota ini atau bahkan di tiap bangunan kota ini yg berlantai lebih dr dua pasti terdapat sarang burung wallet, ternyata kota ini memiliki ketertarikan untuk usaha sarang burung wallet, kalo menurut bang rizal sarang burung wallet kualitas bagus satu mangkuknya bisa di jual hingga seharga 1 juta rupiah, khasiatnya tidak lain tidak bukan ialah untuk kesehatan.
Di kota ini kami juga mengunjungi sebuah pantai yang kalo buat saya tidak bisa di sebut pantai (LOL) karena sama sekali tidak ada ombak, anginpun tidak terlalu banyak. Namun pantainya bersih, putih, halus, dan patas kedalamannya sangat jauh. Bahkan di satu spot foto temen2, terlihat gigo dewa dan cio terlihat malah seperti korban banjir.. karena suasana yg tercipta tidak seperti sedang pantai memang.
Selesai putar2 kota manggar perjalanan di lanjutkan ke bendungan pice. Bendungan ini sebenarnya sama dengan bendungan2 lainnya dimana2, namun ada spot2 tertentu yg menarik untuk diabadikan oleh kawan2
Seusai dari bendungan, tempat-tempat lain masih dikunjungi, yaitu jembatan tempat shooting laskar pelangi dan replika sekolah laskar pelangi. Disekolah tersebut saya tidak mengambil foto, kurangnya mood untuk mengambil foto dikarenalan saat itu banyak kru dan artis sedang sibuk shooting untuk sinetron laskar pelangi. Karena lebih kurang saya mengerti proses kerja mereka maka saya hanya menyaksikan dari jauh dan sesekali saja ikutan difoto. Hehe.
Selesai dari mengunjungi Belitung timur kami kembali ke tanjung pandan dan mampir untuk makan malam, yang lagi2 ternyata sea food.. (LOL) selesai makan malem kami dibreafing oleh bang rizal tentang kegiatan esok hari yg rencananya aka keliling pulau dengan kapal dan akan melakukan snorkeling. Dan dilanjutkan hunting durian di sekitar jalan sudirman, tanjung pandan sebelum kembali ke hotel.
Hari Ketiga
Di hari ketiga saya dibangunkan adi untuk hunting sunrise di dermaga tempat ketika kami mencari sunset di hari pertama. Tapi saya memutuskan tidak ikut, karena memang kebetulan sedang kurang tidur, jadi saya pikir lumayan bisa tidur 3-4 jam lagi.. hehe
Saya terbangun pukul setengah 7 dan adi sudah kembali ke hotel dan lagi nonton barca vs Madrid, dan dia pun suruh saya siap2 untuk sarapan karena sebagian anak2 sudah sarapan dan ngingetin kita akan berangakt jam 8 untuk berangkat putar2 pulau.
Selesai sarapan dan selesai mempersiapkan perbekelan yg kira2 akan di butuhkan seperti baju ganti, losion anti nyamuk, dll kami pun bergegas kelobby dan saya diingatkan untuk menggunakan kaos yang sudah kami siapkan jauh2 hari yaitu kaos yg saya bagikan pada makan malam hari pertama. Setelah tim lengkap maka bang rizal pun langsung membawa kami ke pantai tanjung tinggi untuk setelahnya naik perahu dan langsung tancap ke pulau lengkuas
Pulau lengkuas merupakan pulau di sebelah timur laut - utara daripada pulau Belitung. Pulau ini merupakan tujuan utama wisata pulau kali ini, karena di pulau ini terdapat mercusuar yg sudah berdiri sejak tahun 1882, didirikan oleh pemerintahan colonial belanda dan materialnya pun di produksi dan di bawa langsung dari belanda, yg kemudian baru di rakit di pulau lengkuas ini. Jadi bayangkan betapa rapuhnya mercu suar ini sebenarnya. Sudah berdiri sekitar 129 tahun ketika saya menyambanginya. Untuk menaiki nya pun sang “kuncen” mercusuar meminta kami untuk tidak memakai alas kaki, dan diharuskan mencuci kaki agar pasir pantai atau partikel2 garam laut tidak masuk ke dalam mercusuar karena dapat mengakibatkan korosi pada material2 bajanya. Cukup masuk akal untuk saya aturan tersebut, lagi pula di dalam mercusuar banyak lantai yang licin sehingga memakai alas kaki pun bisa mengakibatkan kita terpeleset.
Namun sayang ketika kami baru menginjakan kaki kami di pulau ini, hujan turun dan ekslporasi kami baru hanya di sasu sisi saja, hal ini tentu membuat sebagian anggota tim kecewa, dan memutuskan untuk langsung makan siang dan sebagian anggota tim memutuskan untuk main hujan2an sambil berenang di pantai. Namun saya memilih untuk bergabung dengan gerombolan tur guide “bocor” yg ternyata orang2 ini ga kalah jayus dengan saya (LOL). Dari obrolan santai kami terkuaklah keahlian mereka berfotografi, hanya bermodalkan henpon kamera mereka bisa menciptakan hasil2 yg kalo saya piker gak kalah dengan hasil2 fotografer outdoor ternama. Hal ini di akui pula oleh bang dew dan eka yang kebetulan ikut melihat hasil jepretan salah satu tur guide yg saya lupa namanya (gubrrak).
Setelah sekitar satu jam lebih mungkin hamper dua jam kami mengalah dengan hujan yg ternyata hujan tersebut masuk ke dalam kategori badai kalo kata bang rizal, maka kami bisa melanjutkan eksplorasi kami di pulau ini. Objek pertama yg di tuju adalah mercusuar yg sedari tadi ada di depan mata kami. Hal pertama yg saya rasakan adalah suasana dingin dr interiornya yang memang full baja. Maka anggota tim pun langsung menyebar, saya pun langsung memutuskan untuk langgsung naik ke puncak menara, sembari menaiki tangga saya melikat eka dan dedek beberapakali berhenti untuk mengambil foto dari jendela mercusuar kea rah pantai atau laut, tapi saya terus naik karena ini pertama kali saya masuk ke dalam mercusuar dan penasaran dengan lampu yang digunakan untuk membimbing kapal agar dapat mencapai pulau.
Cio ternyata yang pertama sampai di ruang paling atas, yaitu ruang lampu, yg ternyata kondisinya sudah diperbaharui. Terdapat mesin genset diruang satu lantai dibawah, yg saya sempat bertanya dalam hati, gimana bawanya ke atas yng tingginya sekitar 12 lantai ini (asumsikan 1 lantai tingginya sekitar 2- 3m). setelah puas melihat dan memperhatikan ruang lampu, saya beranjak ke balkon cantilever sisi luar, dan waaww ternyata keren juga pantai pulau lengkuas dilihat dari atas mercusuar.
Setelah puas foto sana, foto sini, narsis sana, narsis sini, maka kami pun turun dan langsung menuju pantai untuk kembali menaiki kapal karena tujuan selanjutnya sudah menunggu yaitu pulau garuda, pulau pasir, dll. Namun karena waktu sudah menunjukan pukul 2 lewat maka kami hanya akan menyambagi pulau2 yg menarik saja, yaitu pulau pasir, pulau garuda dan snorkeling.
Pulau garuda, dinamakan demikian karena puncak batuannya membentu kepala garuda, dan terlihat dari pulau utama Belitung karena ukurannya yang sangat besar, pulau selanjutnya adalah pulau pasir, yaitu sebuah pulau yg hanya berisi gundukan pasir yg ketika air pasang akan menghilangkan pulau tersebut.
Pulau yg terahir, yg saya lupa namanya pulau apa, namun yg menarik dari pulau ini adalah terdapat suatu kompleks bangunan yg ternyata bangunan utamanya berfungsi sebagai ruang serbaguna yg disewakan. Bang rizal bilang fungsinya sebenarnya disewakan untuk rapat2 para bos2.. jadi mreka akan danang menggunakan speed boat dan bersandar di dermaganya yg lalu langsung di arahkan ke ruang serbagunanya. Sekilas imajinasi saya bermain, terbayang apa bila yg dating itu bos2 mafia perlente dan necis, namun setibanya di dermaga mereka terpeleset karena perpukaan kayu yang licin dan sepatu mereka yg memang bukan di peruntukan di luar ruangan.. (lol)
Selesai dari sini kami snorkeling, lagi 2 pengalaman pertama snorkeling berhasil karena menggunakan pelampung, dan saya nagih, terbuktiketika teman2 ssudah naik saya masi asik kecipak-kecipak di air,, hihi. Selesai snorkeling waktu sudah menunjukan sekitar pukul 5 dan matahari mulai tenggelam, kamipun kembali ke pantai dan di bawa bang rizal kembali ke hotel, untuk bersih2 dan bersiap di jemput sekitar pukul 7 untuk makan malem di bukit berahu.
Sampai di hotel saya gigo dewa dedek dewe dan eka masi melanjutkan main air di kolam renang, dan baru siap2 untuk makan malem itu sekitar setengah 7 karena memang kebetulan sudah mulai banyak nyamuk.. lol.. makan malam kali ini menjadi makan malam terahir di Belitung bukit berahu merupakan bukit yng di suguhi pemandanganpantai dengan perahu2 nelayannya namun karena kami datang malam kami tidak mendapatkan pemandangan tersebut.
On The Way Home
Hari terakhir, Minggu 11 Desember 2011, tim tidak lagi hunting foto. Setelah breakfast dan checkout dari hotel, kita hanya keliling kota untuk membeli suvenir dan oleh-oleh. Terus terang saya tidak berbakat beli oleh-oleh, jadi hari itu hanya membeli mpek-mpek dan kerupuk pesenan orang rumah, padahal saya melihat teman-teman yang lain begitu lihai memilih oleh-oleh. Selesai mengemas oleh-oleh, tidak lama kemudian kita langsung menuju bandara tanjungpinang dan langsung check-in dengan maskapai yang sama; sriwijaya air.
Satu hal yg belum saya coba.. saya belum mencicipi aspal Belitung yg memang halus karena memang jalan disana memang baru di bangun karena terdapat event sail belitong di tahun 2011 dan para pejabat Negara banyak yg dating ke acara tersebut. Next trip ke Belitung saya haru coba nyetir sendiri.. thx buat gigo yg udah nyindir gue di hari trahir buat nyetir.. telaaaattt goo…!! Ude mo pulang..
Di hari ketiga saya dibangunkan adi untuk hunting sunrise di dermaga tempat ketika kami mencari sunset di hari pertama. Tapi saya memutuskan tidak ikut, karena memang kebetulan sedang kurang tidur, jadi saya pikir lumayan bisa tidur 3-4 jam lagi.. hehe
Saya terbangun pukul setengah 7 dan adi sudah kembali ke hotel dan lagi nonton barca vs Madrid, dan dia pun suruh saya siap2 untuk sarapan karena sebagian anak2 sudah sarapan dan ngingetin kita akan berangakt jam 8 untuk berangkat putar2 pulau.
Selesai sarapan dan selesai mempersiapkan perbekelan yg kira2 akan di butuhkan seperti baju ganti, losion anti nyamuk, dll kami pun bergegas kelobby dan saya diingatkan untuk menggunakan kaos yang sudah kami siapkan jauh2 hari yaitu kaos yg saya bagikan pada makan malam hari pertama. Setelah tim lengkap maka bang rizal pun langsung membawa kami ke pantai tanjung tinggi untuk setelahnya naik perahu dan langsung tancap ke pulau lengkuas
Pulau lengkuas merupakan pulau di sebelah timur laut - utara daripada pulau Belitung. Pulau ini merupakan tujuan utama wisata pulau kali ini, karena di pulau ini terdapat mercusuar yg sudah berdiri sejak tahun 1882, didirikan oleh pemerintahan colonial belanda dan materialnya pun di produksi dan di bawa langsung dari belanda, yg kemudian baru di rakit di pulau lengkuas ini. Jadi bayangkan betapa rapuhnya mercu suar ini sebenarnya. Sudah berdiri sekitar 129 tahun ketika saya menyambanginya. Untuk menaiki nya pun sang “kuncen” mercusuar meminta kami untuk tidak memakai alas kaki, dan diharuskan mencuci kaki agar pasir pantai atau partikel2 garam laut tidak masuk ke dalam mercusuar karena dapat mengakibatkan korosi pada material2 bajanya. Cukup masuk akal untuk saya aturan tersebut, lagi pula di dalam mercusuar banyak lantai yang licin sehingga memakai alas kaki pun bisa mengakibatkan kita terpeleset.
Namun sayang ketika kami baru menginjakan kaki kami di pulau ini, hujan turun dan ekslporasi kami baru hanya di sasu sisi saja, hal ini tentu membuat sebagian anggota tim kecewa, dan memutuskan untuk langsung makan siang dan sebagian anggota tim memutuskan untuk main hujan2an sambil berenang di pantai. Namun saya memilih untuk bergabung dengan gerombolan tur guide “bocor” yg ternyata orang2 ini ga kalah jayus dengan saya (LOL). Dari obrolan santai kami terkuaklah keahlian mereka berfotografi, hanya bermodalkan henpon kamera mereka bisa menciptakan hasil2 yg kalo saya piker gak kalah dengan hasil2 fotografer outdoor ternama. Hal ini di akui pula oleh bang dew dan eka yang kebetulan ikut melihat hasil jepretan salah satu tur guide yg saya lupa namanya (gubrrak).
Setelah sekitar satu jam lebih mungkin hamper dua jam kami mengalah dengan hujan yg ternyata hujan tersebut masuk ke dalam kategori badai kalo kata bang rizal, maka kami bisa melanjutkan eksplorasi kami di pulau ini. Objek pertama yg di tuju adalah mercusuar yg sedari tadi ada di depan mata kami. Hal pertama yg saya rasakan adalah suasana dingin dr interiornya yang memang full baja. Maka anggota tim pun langsung menyebar, saya pun langsung memutuskan untuk langgsung naik ke puncak menara, sembari menaiki tangga saya melikat eka dan dedek beberapakali berhenti untuk mengambil foto dari jendela mercusuar kea rah pantai atau laut, tapi saya terus naik karena ini pertama kali saya masuk ke dalam mercusuar dan penasaran dengan lampu yang digunakan untuk membimbing kapal agar dapat mencapai pulau.
Cio ternyata yang pertama sampai di ruang paling atas, yaitu ruang lampu, yg ternyata kondisinya sudah diperbaharui. Terdapat mesin genset diruang satu lantai dibawah, yg saya sempat bertanya dalam hati, gimana bawanya ke atas yng tingginya sekitar 12 lantai ini (asumsikan 1 lantai tingginya sekitar 2- 3m). setelah puas melihat dan memperhatikan ruang lampu, saya beranjak ke balkon cantilever sisi luar, dan waaww ternyata keren juga pantai pulau lengkuas dilihat dari atas mercusuar.
Setelah puas foto sana, foto sini, narsis sana, narsis sini, maka kami pun turun dan langsung menuju pantai untuk kembali menaiki kapal karena tujuan selanjutnya sudah menunggu yaitu pulau garuda, pulau pasir, dll. Namun karena waktu sudah menunjukan pukul 2 lewat maka kami hanya akan menyambagi pulau2 yg menarik saja, yaitu pulau pasir, pulau garuda dan snorkeling.
Pulau garuda, dinamakan demikian karena puncak batuannya membentu kepala garuda, dan terlihat dari pulau utama Belitung karena ukurannya yang sangat besar, pulau selanjutnya adalah pulau pasir, yaitu sebuah pulau yg hanya berisi gundukan pasir yg ketika air pasang akan menghilangkan pulau tersebut.
Pulau yg terahir, yg saya lupa namanya pulau apa, namun yg menarik dari pulau ini adalah terdapat suatu kompleks bangunan yg ternyata bangunan utamanya berfungsi sebagai ruang serbaguna yg disewakan. Bang rizal bilang fungsinya sebenarnya disewakan untuk rapat2 para bos2.. jadi mreka akan danang menggunakan speed boat dan bersandar di dermaganya yg lalu langsung di arahkan ke ruang serbagunanya. Sekilas imajinasi saya bermain, terbayang apa bila yg dating itu bos2 mafia perlente dan necis, namun setibanya di dermaga mereka terpeleset karena perpukaan kayu yang licin dan sepatu mereka yg memang bukan di peruntukan di luar ruangan.. (lol)
Selesai dari sini kami snorkeling, lagi 2 pengalaman pertama snorkeling berhasil karena menggunakan pelampung, dan saya nagih, terbuktiketika teman2 ssudah naik saya masi asik kecipak-kecipak di air,, hihi. Selesai snorkeling waktu sudah menunjukan sekitar pukul 5 dan matahari mulai tenggelam, kamipun kembali ke pantai dan di bawa bang rizal kembali ke hotel, untuk bersih2 dan bersiap di jemput sekitar pukul 7 untuk makan malem di bukit berahu.
Sampai di hotel saya gigo dewa dedek dewe dan eka masi melanjutkan main air di kolam renang, dan baru siap2 untuk makan malem itu sekitar setengah 7 karena memang kebetulan sudah mulai banyak nyamuk.. lol.. makan malam kali ini menjadi makan malam terahir di Belitung bukit berahu merupakan bukit yng di suguhi pemandanganpantai dengan perahu2 nelayannya namun karena kami datang malam kami tidak mendapatkan pemandangan tersebut.
On The Way Home
Hari terakhir, Minggu 11 Desember 2011, tim tidak lagi hunting foto. Setelah breakfast dan checkout dari hotel, kita hanya keliling kota untuk membeli suvenir dan oleh-oleh. Terus terang saya tidak berbakat beli oleh-oleh, jadi hari itu hanya membeli mpek-mpek dan kerupuk pesenan orang rumah, padahal saya melihat teman-teman yang lain begitu lihai memilih oleh-oleh. Selesai mengemas oleh-oleh, tidak lama kemudian kita langsung menuju bandara tanjungpinang dan langsung check-in dengan maskapai yang sama; sriwijaya air.
Satu hal yg belum saya coba.. saya belum mencicipi aspal Belitung yg memang halus karena memang jalan disana memang baru di bangun karena terdapat event sail belitong di tahun 2011 dan para pejabat Negara banyak yg dating ke acara tersebut. Next trip ke Belitung saya haru coba nyetir sendiri.. thx buat gigo yg udah nyindir gue di hari trahir buat nyetir.. telaaaattt goo…!! Ude mo pulang..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar