Belitung by Cio
on the way to belitung
Pikiran pertama gua adalah: gimana caranya gua nyampek airport jam 5 pagi? Namun karena gua anak baik, Tuhan memberi kemudahan buat gua :p Dari jam 3 pagi BBM group mulai deh “pang ping pang ping pong” ~ (bukan bacaan yang sebenarnya, red.) alias berisik untuk ngebangunin jangan sampai kita telat semua. Gak sia-sia, meski rumah di daerah Bintaro, gua jadi orang kedua yang sampai di airport. Isn’t it really sumthin’? Haha. Si Ibu Ketua yang rumahnya paling dekat malah dateng belakangan. Singkat cerita kita semua berhasil numpang ‘metro mini’ cap pesawat sriwijaya. Hal yang paling gua ingat di pesawat tuh cuman: Gigo penakut banget dan Dedek berisik banget. Tak lupa udara yang kurang bersahabat membuat perjalanan selama di udara semakin berwarna *palm face*.
hari pertama
Kondisi: mata masih sepet karena bangun terlalu awal, mau tidur di pesawat gak memungkinkan, cuaca panas yang agak menyengat ngalah-ngalahin AC kendaraan Elf yang kami tumpangi. Namun bara semangat berkobar di dada! Uhuuuuy, ajibbbbb.
Nah begitu sampai di Belitung, sang kusir eh supir datang menghampiri dengan papan namanya. Yes, he is the man of the week, please welcome . . . bang Rizaaaaaaal. Setelah diskusi dikit dengan bang Rizal (yang ternyata berondong bok – info penting yang gua ketahui setelah berteman di FB sesampainya di Jakarta – dibahas) akhirnya kita memutuskan untuk makan mie Belitung sebelum menaruh koper di penginapan. Mie Belitung sendiri, menurut gua pribadi sih gak terlalu istimewa yah, tapi yah namanya supaya eksis, gua pesen juga dong ah. Hehehe. Jarak tempuh dari pusat kota ke penginapan 30 menit, gak lebih ga kurang, dan bisa ditempuh dengan gak lebih dari 3-4 belokan aja dari start awal. Kami menginap di Hotel Lor Inn, konon sih masih 1 group dengan Sheraton. I just love it. Especially the open air bathroom!

Hari pertama ekplorasi ini judulnya adalah 1. Keringet 2. Keringet 3. Keringet. Kenapa gitu? Ya karena 9 orang ini keringetan semua. Hahaha. Bayangin aja ngider-ngider pantai, motret sana motret sini, keujanan, pantai pertama agak bikin kecewa karena pantainya kotor (kotor ama sampah daun dan ranting sih), trus gak ketemu pantai putih landai kebiruaaaan. Huaaaaa mau nangis rasanya gua. Untung air matanya berubah jadi keringet karena keburu kepanasan. Nah pantai berikutnya adalah si lorong bebatuan itu, alias pantai laskar pelangi. Sumpe deh, batu-batunya keren mampuuus. Pertama kali liat ga sangka kalo lorong itu hidup, kirain cuman celah yang buntu aja. Ternyata lorong-lorong itu seling terhubung dan menjadi semacam labirin. Sayang warna air laut di pantai kala itu lagi berkiblat pada trend warna sungai dan pantai yang ada Jakarta. Butek semua.


Akhirnya di pantai kelayang kita menemukan kedamaian. Foto-foto terbang dan loncat pun dipastikan untuk diabadikan disini. Pantai yang landai, pasir putih, air kebiruan. Tiga element dasar untuk bisa disebut sebagai pantai yang indah sudah didapat. Di tempat ini lah kami pun disambut dan berkenalan dengan makhluk-makhluk mini yang tidak ada di Jakarta, Agas namanya. Dia suka sekali kepada kami. Isn’t it really sumthin’?
hari kedua
Sunrise said: capture me if you can!

Oke, diawali dengan si tante labil ini berencana gak mau ikut bangun pagi demi ngejar sunrise. Kayaknya enakan tidur deh daripada ke pantai subuh-subuh yang toh pemandangannya ya aer lagi aer lagi. Tapi begitu gua mendengar bahwa ini di Danau Kaolin, (tunggu, apaan tuh kaolin? Ya lo browsing sendiri deh) gua langsung ngibrit bangun pagi (terutama dengan alarm super kecepetan dari bapak Semper – terima kasih banyak loh – sarkasme – sebenernya kesel). Ga mau rugi lah yaw kalau ini bisa jadi pemandangan yang baru. Iya apa iya? Sampai disana ternyata emang beneran bagus, paling tidak air danaunya sangat cantik. Bayangin aja lo lagi di kawah putih, mirip mirip gitu sih. Hehehehe. Jauh-jauh ke Belitung cuman liat yang mirip kawah putih, pasti itu yang ada di pikiran kalian kan? Tapi gak apa-apa lah, toh gua belum pernah ke kawah putih inih. Tapi bagi para photographer sih kayaknya kurang puas karena ga berhasil menjepret sunrise yang ciamik. Kasian.
Pulang dari Danau Kaolin, kita istirahat dan sarapan dulu di hotel. Sisa hari ini dihabiskan untuk mengunjungi Belitung Timur. Objek-objeknya kurang menarik menurut gua. Satu-satunya yang asyik hanya suatu pantai yang gua lupa namanya. Dimulai dari fakta bahwa airnya ternyata bening, dan bukan coklat butek seperti yang diliat dari kejauhan. Dedek, Gigo dan gua ga tahan untuk nyemplungin kaki ke air laut yang tenang itu (yang dicemplungin kaki loh yah, bukan sisa-sisa pembuangan akhir tubuh manusia). Kita bertiga pun jalan makin menjauhi bibir pantai, dan tebak, ternyata masi tetep landai! Bahkan dari kejauhan terlihat ada orang mancing ikan di tengah laut, dia bediri aja gitu loh, dan airnya hanya sebatas pinggang orang dewasa. Awalnya gua pikir mereka berdua semacam orang-orangan sawah. Ha ha ha. Airnya tenaaang banget. Sampai akhirnya si Gigo resmi menjadi “putra Belitung”.

Selebihnya kita mengunjungi replica sekolah Laskar Pelangi. Gak ada yang istimewa sih menurut gua, kecuali bahwa disana sedang berlangsung proses pembuatan sinetron. Heeemmmm. Pulang dari sini kita langsung pulang ke hotel yang menempuh waktu 2 jam.
Kesan lain tentang hari ini adalah wisata kulinernya. Pokoknya seru deh. Bintang tamunya masih tetap Bapak Gigo yang ternyata napsu makannyaaaaaaa *tutup mata* *merujuk pada saat Gigo ngabisin makan di warung ayam bakar belum lagi di kopi susu Belitung*
hari ketiga
Highlight of the trip: Pulau Lengkuas. Itu tuh pulau yang sering masuk tipi dengan mercu suarnya. Tapi sayang tamu tak diundang datang! Si langit akan becucuran air mata!

Gua bawa baju renang 3 setel dan ternyata kita cuman ngelaut sekali ini saja. Oke oke ini salah gua karena gak nanya info lebih lanjut ke Ibu Ketua. Bagi gua kostum lebih penting daripada langit yang mendung hari ini. Huahahahaha bisa digampar orang-orang nih. Yah sebenarnya langit mendung juga punya dampak buruk ke gua sih, karena hasil foto yang ada gua-nya kan jadi ga maksimal kan. Hihihihihi.

Kita menumpang kapal nelayan yang, yaaaaaah. . . lumayan lah. Perjalanan pergi ombak laut sih gua rasa masih cukup bersahabat. Namun, Bapak Gigo tak hanya antipati pada perjalanan udara, perjalanan laut pun juga. Setelah berdiskusi kami memutuskan untuk langsung ke P. Lengkuas baru nanti akan meneruskan ke pulau-pulau kecil lainnya. Ini dikarenakan langit yang sudah begitu gelap dan dipastikan hujan besar akan segera datang. Sesampainya disana langit pun menangis. Sebagian meneduh di bangunan tua yang mengelilingi mercusuar, sebagian lagi termasuk gua memilih untuk cebur-ceburan di pantai. Pantai ini sendiri gak landai loh kawan-kawan, kurang asik deh buat main-main. Akhirnya Dewa, Gigo, Arip dan gua keliling-keliling sekitar pantai untuk cari spot background foto. Horeeeee, bang Rizal menyertai ‘kubu’ fotomodel ini. Bang Rizal lah yang dengan sigapnya ngambil foto2 kami berempat dengan latar belakang bebatuan yang keren banget. Pokoknya layak jadi profile picture di social media kita deh *itu aja yang dipikirin*. Dari kejauhan kita berempat bisa ngeliat ‘kubu’ potograper bermuka kurang ceria dan lemas karena sang bintang Utama gak nongol, sang matahari. Kasian.

Selepas dari poto-poto, akhirnya gua memutuskan naik juga ke mercu suar. Tanggung, pikir gua. Meski awalnya sempat gak mau naik juga sih, pasalnya gua denger bahwa sebenarnya wisatawan udah gak boleh lagi naik kesitu dikarenakan usianya yang udah 130 tahun. Dengan perlahan tapi pasti dan membawa ‘bekal’ yang cukup lumayan berat buat ukuran naik tangga (kantong anti air warna kuning yang dipenuhi dompet dan gadget kalian :D, red.) gua orang pertama dari group kita yang naik ke puncak. Lha kok malah gua duluan yang sampek yah, padahal tadi gua awalnya gua bilang ga mau naik dan nunggu dibawah aja. Ini bukti kelabilan gua lagi. Hihihihi.

Sunrise said: capture me if you can!

Oke, diawali dengan si tante labil ini berencana gak mau ikut bangun pagi demi ngejar sunrise. Kayaknya enakan tidur deh daripada ke pantai subuh-subuh yang toh pemandangannya ya aer lagi aer lagi. Tapi begitu gua mendengar bahwa ini di Danau Kaolin, (tunggu, apaan tuh kaolin? Ya lo browsing sendiri deh) gua langsung ngibrit bangun pagi (terutama dengan alarm super kecepetan dari bapak Semper – terima kasih banyak loh – sarkasme – sebenernya kesel). Ga mau rugi lah yaw kalau ini bisa jadi pemandangan yang baru. Iya apa iya? Sampai disana ternyata emang beneran bagus, paling tidak air danaunya sangat cantik. Bayangin aja lo lagi di kawah putih, mirip mirip gitu sih. Hehehehe. Jauh-jauh ke Belitung cuman liat yang mirip kawah putih, pasti itu yang ada di pikiran kalian kan? Tapi gak apa-apa lah, toh gua belum pernah ke kawah putih inih. Tapi bagi para photographer sih kayaknya kurang puas karena ga berhasil menjepret sunrise yang ciamik. Kasian.
Pulang dari Danau Kaolin, kita istirahat dan sarapan dulu di hotel. Sisa hari ini dihabiskan untuk mengunjungi Belitung Timur. Objek-objeknya kurang menarik menurut gua. Satu-satunya yang asyik hanya suatu pantai yang gua lupa namanya. Dimulai dari fakta bahwa airnya ternyata bening, dan bukan coklat butek seperti yang diliat dari kejauhan. Dedek, Gigo dan gua ga tahan untuk nyemplungin kaki ke air laut yang tenang itu (yang dicemplungin kaki loh yah, bukan sisa-sisa pembuangan akhir tubuh manusia). Kita bertiga pun jalan makin menjauhi bibir pantai, dan tebak, ternyata masi tetep landai! Bahkan dari kejauhan terlihat ada orang mancing ikan di tengah laut, dia bediri aja gitu loh, dan airnya hanya sebatas pinggang orang dewasa. Awalnya gua pikir mereka berdua semacam orang-orangan sawah. Ha ha ha. Airnya tenaaang banget. Sampai akhirnya si Gigo resmi menjadi “putra Belitung”.

Selebihnya kita mengunjungi replica sekolah Laskar Pelangi. Gak ada yang istimewa sih menurut gua, kecuali bahwa disana sedang berlangsung proses pembuatan sinetron. Heeemmmm. Pulang dari sini kita langsung pulang ke hotel yang menempuh waktu 2 jam.
Kesan lain tentang hari ini adalah wisata kulinernya. Pokoknya seru deh. Bintang tamunya masih tetap Bapak Gigo yang ternyata napsu makannyaaaaaaa *tutup mata* *merujuk pada saat Gigo ngabisin makan di warung ayam bakar belum lagi di kopi susu Belitung*
hari ketiga
Highlight of the trip: Pulau Lengkuas. Itu tuh pulau yang sering masuk tipi dengan mercu suarnya. Tapi sayang tamu tak diundang datang! Si langit akan becucuran air mata!

Gua bawa baju renang 3 setel dan ternyata kita cuman ngelaut sekali ini saja. Oke oke ini salah gua karena gak nanya info lebih lanjut ke Ibu Ketua. Bagi gua kostum lebih penting daripada langit yang mendung hari ini. Huahahahaha bisa digampar orang-orang nih. Yah sebenarnya langit mendung juga punya dampak buruk ke gua sih, karena hasil foto yang ada gua-nya kan jadi ga maksimal kan. Hihihihihi.

Kita menumpang kapal nelayan yang, yaaaaaah. . . lumayan lah. Perjalanan pergi ombak laut sih gua rasa masih cukup bersahabat. Namun, Bapak Gigo tak hanya antipati pada perjalanan udara, perjalanan laut pun juga. Setelah berdiskusi kami memutuskan untuk langsung ke P. Lengkuas baru nanti akan meneruskan ke pulau-pulau kecil lainnya. Ini dikarenakan langit yang sudah begitu gelap dan dipastikan hujan besar akan segera datang. Sesampainya disana langit pun menangis. Sebagian meneduh di bangunan tua yang mengelilingi mercusuar, sebagian lagi termasuk gua memilih untuk cebur-ceburan di pantai. Pantai ini sendiri gak landai loh kawan-kawan, kurang asik deh buat main-main. Akhirnya Dewa, Gigo, Arip dan gua keliling-keliling sekitar pantai untuk cari spot background foto. Horeeeee, bang Rizal menyertai ‘kubu’ fotomodel ini. Bang Rizal lah yang dengan sigapnya ngambil foto2 kami berempat dengan latar belakang bebatuan yang keren banget. Pokoknya layak jadi profile picture di social media kita deh *itu aja yang dipikirin*. Dari kejauhan kita berempat bisa ngeliat ‘kubu’ potograper bermuka kurang ceria dan lemas karena sang bintang Utama gak nongol, sang matahari. Kasian.

Selepas dari poto-poto, akhirnya gua memutuskan naik juga ke mercu suar. Tanggung, pikir gua. Meski awalnya sempat gak mau naik juga sih, pasalnya gua denger bahwa sebenarnya wisatawan udah gak boleh lagi naik kesitu dikarenakan usianya yang udah 130 tahun. Dengan perlahan tapi pasti dan membawa ‘bekal’ yang cukup lumayan berat buat ukuran naik tangga (kantong anti air warna kuning yang dipenuhi dompet dan gadget kalian :D, red.) gua orang pertama dari group kita yang naik ke puncak. Lha kok malah gua duluan yang sampek yah, padahal tadi gua awalnya gua bilang ga mau naik dan nunggu dibawah aja. Ini bukti kelabilan gua lagi. Hihihihi.

Singkat cerita, kita berhasil juga pergi ke pulau pasir dan snorkeling di dekat pulau burung. Dinamakan pulau burung karena dari angle tertentu memang kayak kepala burung. View under waternya sendiri pun biasa-biasa aja. Karang-karangnya sih bagus, tapi sayang sepertinya sudah mati (atau emang ga berwarna aja yah? Maap saya bukan ahli biologi laut). Sepulangnya dari situ, gua rikues mandi duluan – maklum sekamar bertiga, jadi kan kamar mandi kudu antri – kalo mandi bareng, ntar malah intip-intipan) karena gua bener-bener udah kedinginan dari awal dan ngeri bakalan sakit.
on the way home
Gak ada yang istimewa selain gua berhasil nemuin tempelan kulkas cap Belitung. Maklum gua kan koleksi. Sayang koleksi utama gua, yaitu kartu remi cap daerah yang dikunjungi, gak berhasil ditemukan. Sisanya ya makanan, makanan dan makanan. Jadi ceritanya, pagi itu barang-barang bawaan sudah dikemas, ditaruh di bagasi mobil, dan selesai membeli oleh-oleh rencananya kami akan langsung ke bandara. Kami sempat mampir ke beberapa toko souvenir dan makanan khas Belitung. Antara guide dan toko-toko tersebut sepertinya sih sudah menjalin suatu ‘kerja-sama’. Sesampainya di bandara, tak lupa gua sempatkan diri memotret bang Rizal (hahahaha dibahas).
Ngenesnya, selama kami duduk di ruang tunggu keberangkatan, langit pun menampilkan performa terbaiknya. Siang itu cerah, saudara-saudara! Matahari bagaikan menari-nari dimata kami. Sebagian dari kami merasa ingin menikmati Belitung untuk beberapa hari lagi, gua sendiri sih tidak. Udah cukup kok
Belitung by Dedek
on the way to belitung
Saat itu saya janjian ketemu jam 5 pagi diterminal 1B bandara Sukarno-Hatta. Setiba disana sudah ada eka, cio dan yudiyang ternyata datang lebih dulu. Tidak lama kemudian semper, gigo, dewa, arif dandewe menyusul. Pertama kali yang saya amati adalah bentuk bagasi yang dibawa. Tripod dan tas khusus fotografi , menjadisorotan tersendiri buat saya.
Tidak lama kemudian tim check-in di counterSriwijaya Air, lalu menunggu di boarding lounge. Sambil menunggu pesawat timsudah disibukkan dengan gadget. Ada yang mulai foto-foto dan ada juga ngutak-ngatikdengan iPad.
Akhirnya setelah sempat delay sekitar 45menit datang juga panggilan untuk boarding. Dengan memegang boarding passnyamasing-masing, tim mulai bersiap-siap menuju ke pesawat. Selama jalan kaki kepesawat tidak luput saya memulai foto-foto dan merekam sedikit film (ref:day 1, file:0001.mts-00002.mts,P1060102.JPG - P1060103.JPG).
Penerbangan dari Jakarta-Belitung memakanwaktu sekitar 45 menit, saya duduk dekat jendela sisi kiri. Disebelah kanansaya ada cio, gigo dan dewa. Dibaris depan ada Eka dan Dewe, di depannya lagiada Semper, Yudi dan Arif. Selama penerbangan sempat terjadi guncangan yangmembuat penumpang khawatir, tetapi bersyukur pada akhirnya bisa mendarat denganaman. Hanya pada saat pendaratan pilot sempat nge-rem terlalu keras sehinggabadan sedikit terjungkal kedepan. Fiuhh.
Akhirnya kita turun dari pesawat dan tidaklupa berfoto-foto didepan tulisan bandara H.A.S. Hanandjoeddin. Dilanjutkan dengan menunggu mengambilbarang-barang yang masuk bagasi. Tidak lama kemudian seseorang yang ditugaskandari travel agent bernama ‘bang rizal’ sudahstand-by di pintu keluar.
hari pertama
Tidak lama setelah mendarat, tur guide kitamembawa tim keliling kota Tanjung Pandan, dan pertama kali yang saya ingat, turguide kami, bang rizal menunjukkan replika batu meteor disalah satupersimpangan kota tanjungpandan. Tidak jauh dari situ kami berkuliner di Mie-Belitung; yaitu warung sederhana yang menyajikan makanan yang menurut sayakhas dan tentu saja nikmat.
Selesai makan, tim melanjutkan perjalanan kepenginapan (ref:day1,file:P1060107.JPG)untuk menaruh bagasi terlebih dahulu (ref:day1,file: P1060108.JPG) sebelummelanjutkan kembali perjalan pertama untuk hunting, yaitu Tanjung Tinggi Beach(ref:day1, file: P1060109.JPG).
Sangat disayangkan kesan pertama yang sayalihat adalah adanya sampah plastik berserakan di sepanjang pantai Tanjung Tinggi(ref:day1, file: P1060110.JPG).Tetapi saya masih merasa beruntung, karena lautan masih terlihat bening dantentu saja masih bisa mendapatkan spot-spot yang bagus untuk fotografi.Akhirnya saya dan tim memulai explorasi lokasi (ref:day1,file: P1060112.JPG - P1060115.JPG, P1060118.JPG, P1060119.JPG). Saya mendapat beberapa foto yangmenurut saya menarik, yaitu dua ikat kayu yang ditanamkan di laut (ref:day1,file:P1060116.JPG), gradasi warna akibat lumut yang menempel dibatu dengan distorsi akibat gelombang air laut (ref:day1,file: P1060117.JPG),tidak kalah menarik saya mencoba memfoto ketiga rekan saya Dewa, Yudi dan Gigodi atas sebuah batu yang dikelilingi air laut dengan background langit yangcerah (ref:day1,file: P1060118.JPG,P1060119.JPG). Selain itu saya mencoba foto makro batu di situ sehinggaterlihat jelas tekstur dan warnanya (ref:day1,file:P1060133.JPG)dan juga sebuah foto makro kombinasi batu dan pasir yang menurut gigo shapeyang terbentuk terkesan erotis (ref:day1,file:P1060134.JPG).
Sesaat menikmati foto-foto, tiba-tiba cuacaberubah mendung, akhirnya kami terpaksa mengambil break sejenak denganmenyantap kue (ref:day1,file: P1060139.JPG), tidak lama kemudian turun hujan deras(ref:day1,file: P1060142.JPG), timsegera kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanannya kesebuah resto seafoodyang terletak tidak terpaut jauh. (ref:day1,file:P1060150.JPG- P1060156.JPG).
Beruntung, setelah selesai makan siang hujansudah mulai mereda dan alam kembali cerah. Tim pun melanjutkan perjalanan kepantai yang dulunya digunakan sebagai salah satu lokasi shooting Laskar Pelangi(ref:day1,file: P1060158.JPG,P1060159.JPG), bongkahan batu-batu yang besar yang berbentuk naturalmenjadi kesan pertama yang harus segera diabadikan (ref:day1,file: P1060160.JPG, P1060161.JPG). Akhirnya saya besertatim lainnya melanjutkan explorasi disekitarnya. Dengan biru langit yang cerah dan betuk awan yang jelas, yangsayangnya air masih keruh akibat dari hujan deras (ref:day1,file:P1060162.JPG, P1060164.JPG). Sejenak lupakan dulu air laut keruh. Dikejauhansaya tiba-tiba melihat objek batu di tengah laut yang menurut saya menarik, berbentukdan berwarna seperti sapi, karena kombinasi hitam dan putih beserta kontur yang dibentuk (ref:day1, file: P1060167.JPG, P1060168.JPG). Tidak jauh dari situ, Yudi juga memberitahu saya ada sebuah batu seperti kepala dengan sepucuk rambut di puncaknya (ref:day1,file: P1060170.JPG). Berpalingsedikit dari bebatuan terhampar pantai yang terbentang lebar (ref:day1,file: P1060176.JPG) dan disana jugaterdapat banyak kapal-kapal nelayan terbuat dari kayu yang sudah dicatwarna-warni yang masing-masing diikatkan di tiang kayu yang telah dipancangkan ke dasar lautan (ref:day1,file:P1060180.JPG, P1060181.JPG).Selain itu ternyata ada juga bangkai kapal kayu yang dibiarkan tergeletak dipantai dan sudah berlumut (ref:day1,file:P1060182.JPG,P1060183.JPG).
Ketika sedang asiknya berfoto-foto, tiba-tiba batre kamerasaya habis (hiks). Eksplorasi pun menjadi terhambat dan terpaksa menggunakan HPNokia e72 untuk mengabadikan spot-spot lainnya (ref:day1,file: 08122011200.jpg-08122011209.jpg). Spot-spot tersebutadalah batu yang berbentuk kepala burung (ref:day1,file:08122011205.jpg) dan beberapa spot lainnya yang merupakan kombinasi batu,tanaman, pantai, laut dan pulau. (ref:day1,file:08122011202.jpg, 08122011203.jpg, 08122011204.jpg, 08122011206.jpg, 08122011207.jpg).
hari kedua
Dengan badan yang masih agak lelah diharikedua ini saya harus bangun ekstra pagi untuk dapat mengabadikan sunrise diDanau Kaolin. Pada saat itu susah sekali untuk bangun meski alarm di hp gigosudah di set jam 3.00. Kenyatannya, kita berdua baru benar-benar bangunsetengah jam berikutnya. Akhirnya dengan semangat, perlahan-lahan tapi pasti bersiap-siapuntuk berangkat dan bergabung dengan teman-teman lainnya.
Perjalanan yang ditempuh hari ini ternyatacukup jauh. Bang rizal pun nyetir agak ngebut demi mencapai tujuan, dimana lokasiyang akan dituju sebenarnya merupakan bekas tambang timah. Tidak lama kemudian,sekitar 30 menit perjalanan akhirnya tim tiba dilokasi. Beruntung mataharibelum terbit! Begitu sampai lokasi, timbergegas mempersiapkan segalanya dan memulai mengambil spot-spot strategis
Daya tarikdari lokasi ini adalah bebatuan kapur berwarna putih yang mengelilingi seluruhsite, dan juga refleksi dari permukaan air. (ref:day2,file: P1060198.JPG). Akhirnya tidak lama kemudian matahariperlahan mulai muncul, keindahan terlihat dari gradasi warna yang membias dilangit dan pantulan di permukaan air (ref:day2,file:P1060207.JPG-P1060211.JPG). Antusias untuk mengabadikan sunrise jugaditunjukkan rekan-rekan saya lainnya, Semper dan juga Eka (ref:day2,file: P1060206.JPG, P1060217.JPG). Begitu matahari sudah agak tinggi sayamencoba mengambil foto makro permukaan yang menyerupai batu kapur yang menurutsaya seperti garam batu (ref:day2,file:P1060212.JPG, P1060217.JPG). Ternyata tantangan untuk kreatif tidakberhenti disini. Ketika lagi konsentrasi mengambil foto, tiba-tiba sayaterkejut karena mendengar suara batu jatuh ke air. Entah ide siapa, ternyataitu dimaksudkan untuk memberi efek wave di permukaan air (ref:day2,file:P1060215.JPG). Ketika matahari semakin tinggi,akhirnya tim kembali ke mobil menuju ke penginapan untuk breakfast dan breaksejenak sebelum melakukan hunting berikutnya.
Perjalanan pun dilanjutkan ke vihara dewikwam im yang terletak di salah satu dataran tertinggi yang ada di pulaubelitung (ref:day2,file: P1060228.JPG). Vihara ini terdapat banyak pendopo-pendopoyang biasa digunakan untuk meramal. Seperti vihara pada umumnya nuansa merahmendominasi tampak bangunan dan lampion yang digantungkan di langit-langit.Tidakluput juga sepasang kolom berbentuk naga yang menyertainya (ref:day2,file: P1060227.JPG). Seusaimengeksplorasi vihara dewi kwam im, tidak jauh dari vihara tersebut kita breaksejenak untuk sholat jumat. Pada saat itu saya bingung kenapa penduduk setempatharus selalu menutup pintu pagar setiap kali memasuki masjid. Pikiran saya mungkindikarenakan disana banyak anjing liar, sehingga pintu harus selalu tertutupuntuk mencegah anjing masuk ke dalam masjid. Perjalanan pun dilanjutkan dengan breaksejenak di kedai kopi. (ref:day2,file:P1060230.JPG-P1060234.JPG).
Tidak lama kemudian perjalanan di lanjutkanke bendungan pice. Sebenarnya buat saya tidak ada yang terlalu istimewa dilokasi ini. Bagaimanapun juga saya akan mencari spot terbaik. Akhirnya saya mencobauntuk mengambil momen dua fotografer kita sedang beraksi, yaitu semper (ref:day2,file:P1060242.JPG) dan Dewe (ref:day2,file: P1060243.JPG). Sebagaitambahan saya mencoba mengambil foto salah satu detail bendungan berbentukseperti roda yang biasanya digunakan untuk membuka tutup pintu air (ref:day2,file: P1060244.JPG).
Seusai dari bendungan, tempat-tempat lainmasih dikunjungi, yaitu jembatan tempat shooting laskar pelangi dan replikasekolah laskar pelangi. Disekolah tersebut saya tidak mengambil foto, kurangnyamood untuk mengambil foto dikarenalan saat itu banyak kru dan artis sedangsibuk shooting untuk sinetron laskarpelangi. Saya hanya menyaksikan dari jauh dan sesekali saja ikutan difoto.Hehe.
hari ketiga
Dihari ketiga ini tim berencana mengeksplorpulau kecil disekitar belitung, terutama pulau lengkuas dan sekitarannya.Khusus untuk hari ini setiap peserta menggunakan kaos bertuliskan belitungisland dengan masing-masing memiliki warna. Saya pribadi menggunakan warnaputih tulang.
Sebelum menyebrang ke pulau lengkuaskita diharuskan menggunakan rompi pelampung, akhirnya dengan menggunakan perahumotor yang terbuat dari kayu perjalananpun dimulai. Beruntung selama perjalanan kondisi laut pada saat itu relatif tenang,sehingga tim mampu melaju ke pulau lengkuas tanpa hambatan. Hanya sayangnyasetibanya di pulau lengkuas beberapa saat kemudian turun hujan cukup deras yangmemaksakan untuk menghentikan kegiatan fotografi. Tidak habis pikir, waktukosong ini dimanfaatkan dewa, cio dan gigo untuk berenang di sekitaran pantai (ref:day3, file:P1060256.JPG, P1060257.JPG).
Setelah beberapa saat kemudian akhirnyahujan pun mereda. Tim mulai mengeksplorasi pulau lengkuas dengan berfoto-fotodi pinggiran pantai yang berbatu-batu besar. (ref:day3,file: P1060258.JPG-P1060264.JPG). Akhirnya setelah puasberfoto-foto di pantai, tim mulai mengeksplorasi mercusuar yang bisa dikatakanlandmark dari belitung. (ref:day3,file:P1060298.JPG). Beberapa objek menarik bisa didapat disini, seperti viewdari dalam jendela ke arah luar (ref:day3,file:P1060266.JPG), tangga putar di setiap lantai (ref:day3,file:P1060267.JPG), view dari puncak menara ke bawah (ref:day3,file: P1060269.JPG, P1060270.JPG,P1060276.JPG, P1060278.JPG) dan lampu tembak pada mercusuar itu sendiri (ref:day3,file: P1060271.JPG). Setelahpuas mengeksplorasi mercusuar kami pun berlayar kembali dan sesaat diperjalanan saya mengambil foto pulau burong yang konon bebatuan disana berbentukseperti burung (ref:day3,file:P1060302.JPG - P1060305.JPG). Dilain sisi, dipulau tersebut juga terdapat sebuahrumah sewa dimana dindingnya terbuat dari batu granit (ref:day3,file: P1060315.JPG) dimana disisi ke arah pantai terhubunglangsung dengan dermaga yang terbuatdari kayu. (ref:day3,file: P1060314.JPG).
Perjalanan pun dilanjutkan menuju pulauterapung. Pulau ini hanya muncul ketika air surut. Tim berfoto bersama bintanglaut yang tersebar (ref:day3,file:P1060317.JPG-P1060350.JPG). Bintang laut itu di kumpulkan yang pada akhirnya harussegera dilepaskan di laut dalam agar tidak membahayakan nyawanya.
Akhirnya perjalanan hari ini pun ditutupdengan kegiatan snorkling. Dikarenakan sudah terlalu sore Karang-karang yangindah terpaksa tidak terlihat terlalu jelas ditambah kondisi langit yang sedikitmendung. Setiba di penginapan beberapateman langsung berenang. Seru, ntah kenapa pada saat itu mendadak gw jadi gururenang. Gw ingat si dewe minta diajarin cara ngambang di air, sedangkan ekabingung ngatur nafas saat berenang. Hahaha. Dipinggiran kolam renang sepertibiasa gigo hanya berendam. Menurut saya dewa yang paling jago berenang,berenangnya cepat dari ujung ke ujung cuman sekali ambil nafas. Ckckck. Waktuitu yudi ikut berenang ngga ya? Gw lupa?
on the way home
Hari terakhir, Minggu 11 Desember 2011, tim tidaklagi hunting foto. Setelah breakfast dan checkout dari hotel, kita hanyakeliling kota untuk membeli suvenir dan oleh-oleh. Terus terang saya tidakberbakat beli oleh-oleh, jadi hari itu hanya membeli mpek-mpek dan madu,padahal saya melihat teman-teman yang lain begitu lihai memilih oleh-oleh.Selesai mengemas oleh-oleh, tidak lama kemudian kita langsung menuju bandaratanjungpinang dan langsung check-in dengan maskapai yang sama; sriwijaya air.Momen terakhir pada saat itu adalah foto-foto di ruang tunggu. (ref:day3,fileP1060355.JPG-P1060364.JPG)
Langganan:
Komentar (Atom)








































































